PERAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN DALAM PENEGUHAN MASYARAKAT MULTIKULTURAL INDONESIA: PROSPEK DI TENGAH DESAKAN BUDAYA GLOBAL

Tolak Totok

Abstract


Negara bangsa Indonesia terdiri atas sejumlah besar kelompok-kelompok etnis, budaya, agama dan lain-lain. Indonesia memiliki warisan dan tantangan pluralisme budaya (cultural pluralism) secara lebih mencolok, sehingga dipandang sebagai “lokus klasik” bagi bentukan baru “masyarakat majemuk” (plural society). Keberagaman yang dimiliki negara Indonesia dapat ditinjau dari dua ciri uniknya, pertama secara horizontal, ini lazimnya ditandai dengan kenyataan bahwa adanya kesatuan sosial didasarkan pada perbedaan adat, agama, suku, dan perbedaan kedaerahan, kedua secara vertikal biasanya ditandai dengan adanya perbedaan lapisan atas dan lapisan bawah yang mencolok. Kondisi di atas tergambar dalam prinsip bhinneka tunggal ika, yang berarti meskipun Indonesia adalah berbhinneka, tetapi terintegrasi dalam kesatuan. Pada abad 21, keragaman kultur di Indonesia mendapatkan ujian yang serius, yang ditandai berbagai konflik kekerasan yang bersifat komunal, seperti konflik Ambon, Poso, dan Sambas. Konflik sosial yang berbau SARA ini tidak dapat dianggap remeh, karena kemungkinan akan menyulut konflik di daerah lain, ditambah dengan masuknya budaya global yang tidak terbendung tentu akan menjadikan pluralisme sebagai tantangan bukan keindahan. Persoalan tersebut menggambarkan bahwa masih ada persoalan mendasar yang belum terselesaikan. Untuk itu, perlu adanya strategi fundamental dalam dunia pendidikan, strategi dalam konteks ini adalah melalui pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang dimaksud dalam hal ini adalah Pendidikan Kewarganegaraan dalam arti luas yang memiliki perspektif kewarganegaraan dunia abad 21 yang biasa disebut kewarganegaraan multidimensi yang memiliki karakteristik multikultural. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan pengetahuan dan wawasan yang lebih mendalam mengenai pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk peneguhan masyarakat multikultural Indonesia.

Keywords


Pembelajaran PPKn, Multikultural, Budaya Global

References


Aly, A. (2005). “Pendidikan multikultural dalam tinjauan pedagogik”. Makalah dipresentasikan pada “Seminar Pendidikan Multikultural sebagai Seni Mengelola Keragaman”, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB-PS) Universitas Muhammadiyah Surakarta, pada Sabtu, 8 Januari 2005.

Arif, D. B. (2008). ”Kompetensi Kewarganegaraan untuk Pengembangan Masyarakat Multikultural Indonesia”. Acta Civicus: Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, Vol. 1 (3). 19-25

Azra, A. (2006). Pancasila dan Identitas Nasional Indonesia: Perspektif Multikulturalisme”. Dalam Restorasi Pancasila: Mendamaikan politik identitas dan modernitas. Bogor: Brighten Press.

Bank, J. A. (1989). Multicultural education: Issues and perspectives. London: Allyn and Bacon Press.

Blum, L. A. (2001). “Antirasisme, Multikulturalisme, dan Komunitas Antar-Ras: Tiga Nilai yang Bersifat Mendidik bagi Sebuah Masyarakat Multikultural”. Dalam May, Larry, Shari Collins-Chobanian, and Kai Wong (Eds). Etika Terapan I: Sebuah pendekatan multikultural. Terjemahan oleh Sinta Carolina dan Dadang Rusbiantoro. Yogyakarta: PT Tiara Wacana.

Cogan, J. J., & Derricott, R. (1998). Citizenship for the 21st Century: An international perspective on education. London: Kogan Page.

Garcia, R. L.(1982). Teaching in a pluristic society: Concepts, models, strategies. New York: Harper & Row Publisher.

Goh, M. (2012). Teaching with cultural intelligence: developing multiculturally educated and globally engaged citizens. Asia Pacific Journal of Education, 32 (4), 395–415

Hefner, R. W. (2007). Politik multikulturalisme: Menggugat realitas kebangsaan. Terjemahan oleh Bernardus Hidayat dari judul asli “The Politics of Multiculturalism, Pluralism and Citizenship in Malaysia, Singapore, and Indonesia”. Yogyakarta: Kanisius.

Huerta, G. C. (2016). Barriers to the Implementation of Multicultural Education in a Secondary Teacher Preparation Program. The High School Journal, 82 (3) 150-164

Hidayatullah, M. F. (2011). “Pendidikan Karakter dan Pengembangan Metode Pembelajaran Nilai”. Bahan tayangan disampaikan dalam Pentaloka Doswar se-Jawa Tengah dan DIY di Dodik Bela Negara Resimen Kodam IV/Diponegoro Magelang, 12 April 2011.

Karsten, S., Kubow, P., Matrai, Z., & Pitiyanuwat, S. (2000). Challenges facing the 21st century citizen: Views of policy makers. In J. Cogan & R. Derricott (Eds.), Citizenship for the 21st century: An international perspective on education (pp. 109–130). London: Kogan Page.

Kubow, P., Grossman, D. L., & Ninomiya, A. (2000). Multidimensional citizenship: Educational policy for the 21st century. In J. Cogan & R. Derricott (Eds.), Citizenship for the 21st century: An international perspective on education (pp. 131–150). London: Kogan Page.

Rondli, W. S. (2014). Strategi pembelajaran PKn berbasis multikultural: Studi kasus di SMA Mataram kota Semarang Jurnal ilmiah civic, IV (2) 4-5

Saha, L. J. (1997). International encyclopedia of sociology of education (Resources in Education Series). New York: Pergamon

Saifuddin, A. F. (2006). Reposisi Pandangan mengenai Pancasila: Dari Pluralisme ke Multikulturalisme. Dalam Restorasi Pancasila: Mendamaikan politik identitas dan modernitas. Bogor: Brighten Press

Suparlan, P. (2005). Sukubangsa dan hubungan antar sukubangsa. Jakarta: Yayasan Pengembangan Kajian Ilmu Kepolisian.

Tilaar, H.A.R. (2004). Multikulturalisme: Tantangan-tantangan global masa depan dalam transformasi pendidikan nasional. Jakarta: Grasindo.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Wang, J., Lin, E., Spalding, E., Odell, S. J., & Klecka, C. L. (2011). Understanding teacher education in an era of globalization. Journal of Teacher Education, 62 (2).


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 PIONIR: Jurnal Pendidikan



Indexed By:

 ​​ ​