ESTIMASI BIOMASSA SERASAH DAUN DI GUNUNG BERAPI SEULAWAH AGAM KECAMATAN SEULIMUEM KABUPATEN ACEH BESAR

Hadi Safriani, Rizkina Fajriah, Sarah Sapnaranda, Salminardi Mirfa, Muslich Hidayat

Abstract


Serasah dedaunan merupakan hasil dari aktifitas alami tumbuhan. Serasah daun dapat terurai secara alami, namun membutuhkan waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akumulasi karbon organik pada tumbuhan (serasah, herba, dan pohon), tepatnya di daerah gunung berapi Seulawah berapi, Kecamatan Seulimum, Aceh Besar. Umumnya, serasah dari spesies yang tumbuh pada lingkungan yang miskin unsur hara lebih sulit terdekomposisi dan akan menyebabkan lambatnya proses siklus hara pada lingkungan tersebut dibanding serasah yang berasal dari tanaman yang hidup pada lingkungan yang kaya unsur hara. Berdasarkan hasil penelitian pada 10 stasiun dengan penempatan 3 plot pada masing-masing stasiun diperoleh jumlah biomassa total 131,05 gr sehingga dapat diperoleh biomassa serasah di gunung berapi Seulawah Agam 1528,91 ton/ha. Beberapa faktor yang memengaruhi jatuhan serasah yaitu keadaan lingkungan meliputi kondisi iklim, ketinggian, dan kesuburan tanah. Saat musim kemarau produksi serasah relatif lebih tinggi bila dibandingkan pada musim hujan. Hal ini berarti keadaan cuaca akan memengaruhi kecepatan gugurnya daun.

Full Text:

PDF

References


Aisyah Maulida Hanum, 2014, Laju Dekomposisi Serasah Daun Trembesi (Samanea Saman) dengan Penambahan Inokulum Kapangâ€, Jurnal Sains dan Seni Pomits, Vol.3 No.1.

Andi Gustiani Salim, 2014. “Produksi dan Kandungan Hara Serasah pada Hutan Rakyat Nglanggeran, Gunung berapiKidul, D.I. Yogyakartaâ€, Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, Vol.11 No.2.

Fiqa, P dan Sofiah. 2011. Pendugaan Laju Dekomposisi Dan Produksi Biomassa Serasah Pada Beberapa Lokasi Di Kebun Raya Purwodadi. UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi

Joe, B., Bolognesi, C., Brock, T., Capri, E., Hardy, A., Hart, A., 2010, “Scientific opinion: Scientific opinion on the importance of the soil litter layer in agricultural areasâ€.Journal Efsa, Vol.8 No.6.

Kusnadi, Saefudin, 2007, Keanekaragaman jamur Selulolitik dan Amilolitik Pengurai Sampai Organik dari berbagai Substrat, Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Mulyani, M, Kartasapoetra, A.G, dan Sastroatmodjo, S. 1991. Mikrobiologi Tanah. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Nasrul, T.M. 2009. “Pengaruh Penambahan Jamur Pelapuk Putih (White Rot Fungi) pada Proses Pengomposan Tandan Kosong Kelapa Sawitâ€. Jurusan Teknik Kimia, Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh. Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan, Vol.7,No.2.

Riyanto, Indriyanto, dan Afif Bintoro, 2013, Produksi Seresah Pada Tegakan Hutan di Blok Penelitian dan Pendidikan Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Provinsi Lampung, “Jurnal Sylva Lestariâ€, Vol. 1 No. 1. September

Sunarto. 2003. Peranan Dekomposisi dalam Proses Produksi pada Ekosistem Laut. Pengantar Falsafah Sains, Program Pascasarjana/S3 IPB. Bogor.

Wibisana, B. T. 2004, Produksi dan Laju Dekomposisi Serasah Mangrove di Wilayah Pesisir, Kabupaten Berau Provinsi, Kalimantan Timur. Skipsi. Ilmu Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan.IPB.

Widya, K.P. 2011. Laju Dekomposisi Serasah Daun. USU Press : Medan.

Wahyu Andy Nugraha, 2010, “Produksi Serasah (guguran daun) pada berbagai jenis Mangrove di Pangkalanâ€, Jurnal Kelautan, Vol.3 No.1.

Yuliadi Zamroni, Immy Suci Rohyani, 2008, Produksi Serasah Hutan Mangrove di Perairan Pantai Teluk Sepi, Lombok Barat, B I O D I V E R S I T A S, Vol. 9, No.4.

Zulfikli, H., Yustian, I. dan Setiawan D. 2010. Kandungan Karbon Tersimpan Dalam Serasah Sebagai Mitigasi Dampak Perubahan Iklim Perkotaan. Sriwijaya Press: Palembang.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.