Menuju Desentralisasi Berbasis Kearifan Lokal di Indonesia

Hasan Basri M. Nur

Abstract


Negara Indonesia yang terdiri dari berbagai etnik, budaya, latar belakang sejarah dan agama yang berbeda-beda menyimpan sejumlah potensi yang dapat diarahkan sesuai kehendak. Keberagaman ini dapat diarahkan untuk keamajuan bangsa atau sebaliknya menjadi sumber konfik. Dominasi etnik tertentu yang mayoritas atas etnik-etnik minoritas menjadi sumber malapetaka dan pemicu perlawanan dari etnik tertindas, sebagaimana pernah terjadi pada era Orde Baru yang menimbulkan perlawanan dari berbagai pihak dan daerah. Sebaliknya pemberitaan penghargaan dan pelestarian budaya suatu etnik di suatu daerah akan menciptakan kehidupan yang harmonis. Menghargai perbedaan sesuai kearifan lokal masing-masing etnik adalah fitrah dan sesuai sunnatullah. Ini sejalan dengan firman Allah dalam Surat Al-Hujarat ayat 13. “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Ayat ini mengakui adanya perbedaan etnik. Oleh karenanya setiap kelompok manusia perlu memahami dan menghargai kearifan lokal yang ada pada kelompok lain. Ta’aruf (saling kenal-mengenal) dalam ayat di atas adalah anjuran untuk saling mengenal dan mempelajari kearifan lokal kelompok lain dengan menggunakan kaca mata kelompok yang diamati, bukan berpatron pada kultur lain. Setelah mengamati dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, maka akan tumbuh semangat menghargai terhadap kelompok lain. Dengan cara saling memahami dan menghargai itulah pecahnya bentrokan antar-Suku, Agama, Ras dan Antar-golongan (SARA) dapat dihindari. Pemberian hak khusus kepada Aceh melalui Undang-undang No.11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh perlu mendapat penghargaan dan pengakuan dari semua pihak. Begitu juga daerah-daerah lain di Indonesia berhak menuntut dan diberikan status istimewa sesuai kearifan lokal yang dimiliki. Dengan adanya penghargaan terhadap kearifan lokal seperti ini, maka status NKRI dapat bertahan, dan perlawanan sparatisme akan meredup.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.22373/albayan.v19i27.97

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

©Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah. Published by Center for Research and Community Service (LP2M) in cooperation with Faculty of Da'wah And Communication, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Aceh, Indonesia.