Aceh, Qanun and National Law: Study on Legal Development Orientation

Ridwan Nurdin, Muhammad Ridwansyah

Abstract


This study wants to examine the suitability of Aceh Qanun with National Law related to the Hierakicity of laws and regulations in Indonesia. In theory it is possible that the Aceh Government can build its own hierarchies that are not the same as the Central Government. This relates to the authority of the Aceh Qanun which is not the same as the Regional Regulation but the hierarchy that is built but meets the basic norms of the Indonesian constitution. There are two focuses which are the focus of this research. First, what is the character of the Aceh Qanun as a legal umbrella in the implementation of post-autonomy Aceh and post-peaceful Aceh? Second, What Is the Future of Law in Aceh? The results of the first research, the character of the Aceh Qanun as a legal umbrella in the implementation of post-autonomy Aceh and post-peaceful Aceh is expected to be able to build Aceh better because of the presence of Law Number 18 Year 2001 and Law Number 11 Year 2006 regarding new hopes for the people of Aceh itself specifically in the field of Islamic sharia. Second, the future of law in Aceh in the discussion of legal development, is greatly developing from creating new norms in Aceh Qanun Number 6 of 2014 concerning Jinayah Law, because regulating jinayah law in Aceh does not have to draw the Criminal Code or the Criminal Procedure Code.

Keywords


Aceh, Qanun and National Law

Full Text:

PDF

References


Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Surabaya, Pustaka Progresif, 1997.

Al Yasa Abubakar, “Syariat Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam: Otonomi Khusus di Bidang Hukum”, Makalah, dipresentasikan pada Sharia International Conference di Banda Aceh, 20 Juli 2007.

Alyasa Abubakar dan M. Daud Yoesuf, Qanun Sebagai Peraturan Pelaksanaan Otonomi Khusus di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Jakarta, Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-Undangan Departamen Hukum dan HAM, 2004.

Alyasa Abubakar, Kajian Undang-Undang Pemerintah Aceh dan Essay tentang Perempuan, Banda Aceh: Dinas Syariat Islam Aceh, 2007.

Departmen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, 2006.

Hans Kelsen, General Theory of Law and State, New York: Russell dan Russel, 1945.

Hans Nawiasky, Algmeine Rechtslehre als System der rechtilchen Grundbegriffe,Zurich: 1948

Ifdhal Kasim, Analisis Qanun-Qanun: Berbasis Hak Asasi Manusia, Jakarta: Lembaga Kajian Demokrasi dan Hak Asasi, 2011.

Laporan Human Rigths Watch, Tim Peneliti, Menegakkan Moralitas: Pelanggaran dalam Penerapan Syariah di Aceh, New York: Human Rigths Wacth Press, 2010.

Liaw Yock Fang, Den Haag, Undang-Undang Malaka, KITLTV, 1976.

Maria Farida Indrati, Ilmu Perundang-Undangan: Jenis, Fungsi, dan Muatan Materi, Yogyakarta: Kanisius, 2007.

Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad Jilid I, Medan: Waspada Medan Press, 1981.

Nur El-Ibrahimy, Peranan Tgk. M. Daud Beureuh dalam Pergolakan Aceh, Jakarta, Media Dakwah, 1999.

Otto Syamsuddin Ishak, Aceh Pasca Konflik: Kontestasi 3 Varian Nasionalisme, Banda Aceh: Bandar Publishing, 2013.

Perjanjian antara pihak RI dengan GAM yang sering disebut dengan Memorandum of Understanding between the government of theRepublic of Indonesia and theFree Aceh Movement.

Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelengaraan Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Lembaran Negara Nomor 44 Tahun 1999, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3893.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4134.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4633.

Undang-Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82.

Agus Triyanta, “Membangun Kembali Aceh: Reinvigorasi Syariat Islam Pasca Mahkamah Syariah”, Jurnal Hukum, Nomor 29 Volume 12 Mei 2005.

Amrizal J. Prang dan Nanda Amalia, “Proses Pembentukan Pemerintahan Aceh”, Jurnal Respublica, Volume 6 Nomor 2 Tahun 2007.

Chairul Fahmi, “Revitalisasi Penerapan Hukum Syariat di Aceh (Kajian terhadap Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006)”, Jurnal Tsaqafah, Volume 8 Nomor 2 Oktober 2012.

Husni Mubarak A. Latiief, Disonansi Qanun Syariat Islam dalam Bingkai Konstitusi Hukum Indonesia: Aceh sebagai Studi Kasus, Surabaya, Annual International Conference Studies, 2012.

Mohd Din, “Kebijakan Pidana Qanun Acel dalam Perspektif Kebijakan Hukum Pidana”, Kanun Jurnal Ilmu Hukum, Nomor 67, Tahun XVII, Desember 2015.

Muhammad Ridwansyah, “Mewujudkan Keadilan, Kepastian dan Kemanfaatan Hukum dalam Qanun Bendera dan Lambang Aceh”, Jurnal Konstitusi, Volume 13, Nomor 2, Juni 2016.

Muhammad Ridwansyah, “Upaya Menemukan Konsep Ideal Hubungan Pusat-Daerah Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”, Jurnal Konstitusi, Volume 14, Nomor 4, Desember 2017.

Muhammad Ridwansyah, “Analisis Pembentukan Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh”, Laporan Penelitan, Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 2016.

Nyak Fadlullah, “Metode Perumusan Qanun Jinayah Aceh: Kajian Terhadap Pasal 33 tentang Zina”, Jurnal Agama dan Hak Asasi Manusia, Volume Nomor 1 November 2017.

Syamsul Anwar, “Teori Pertingkatan Norma dalam Usul Fikih”, Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum, Volume 50 Nomor 1, Juni 2016.

Syamsul Bahri, “Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh di sebagai Bagian Wilayah NKRI”, Jurnal Dinamika Hukum, Volume 12 Nomor 2 Mei 2012.

Internet

Agus Setyadi, Disebut bertentangan dengan KUHP, Qanun JInayah Aceh digugat ke MA, https://news.detik.com/berita/3051138/disebut-bertentangan-dengan-kuhp-qanun-jinayah-aceh-digugat-ke-ma, diakses tanggal 22 Januari 2018.

Elaine Pearson, Menegakkan Moralitas Pelanggaran dalam Penerapan Syariah di Aceh, Indonesia, diakses https://www.hrw.org/id/report/2010/11/30/256153, tanggal 25 Februari 2018.

Fitriani A. Sjarief, “Qanun Jinayat Tidak Bertentangan dengan Konstitusi”, http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4aeaa7b74a1b8/qanun-jinayat-tidak-bertentangan-dengan-konstitusi, diakses tanggal 18-02-2018.

Heydar Affan, “Bingkisan Syariat Islam itu diletakkan di Palrlemen Aceh”, http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/08/150815_indonesia_wwcr_malikmahmud, diakses tanggal 17-02-2018.

Khairil Akbar, “Hukum Cambuk: Antara Sarana dan Tujuan”, http://aceh.tribunnews.com/2017/07/21/hukuman-cambuk-antara-sarana-dan-tujuan, diakses tanggal 19-02-2018.

Letezia Tobing, “Keabsahan Ketentuan Pidana dalam Qanun Pemerintah Aceh”, http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt50c91f228f796/keabsahan-ketentuan-pidana-dalam-qanun-pemerintah-aceh, diakses tanggal 18-02-2018.

Serambi Indonesia, http://aceh.tribunnews.com/2017/10/23/dianggap-merugikan-sejumlah-lsm-minta-qanun-jinayat-ditinjau-ulang?page=2, diakses tanggal 17-02-2018.

Tim Peneliti, Indonesia: “Peraturan Daerah Syariah Melanggar Hak Asasi di Aceh”, https://www.hrw.org/id/news/2010/11/30/241225, diakses tanggal 17-02-2018.

Wawan Republika, “Hukum Rajam belum bisa Dimasukkan ke Qanun Jinayat”, http://www.republika.co.id/berita/shortlink/89720, diakses tanggal 17-02-2018.




DOI: http://dx.doi.org/10.22373/sjhk.v4i1.6416

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Ridwan Nurdin, Muhammad Ridwansyah

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


Visitors Statistics

 

Flag Counter

Unique Visitor