Tamimah dalam Perspektif Hadis

Zulihafnani Zulihafnani, Salwati Salwati

Abstract


Tamimah is a rope that is worn by Arabs around the neck of children with the assumption that it can protect them from other diseases or eye diseases. Islam came and forbade all things related to shamanism in the form of amulets or spells and anything related to them is an evil that must be fought, except those that come from the Qur'an or spells that are ma'tsur. Based on this problem, the author wants to examine how the quality of the hadiths, both those that allow and forbid and how to resolve them. Based on the results of the research, the authors found that the hadiths that seemed contradictory regarding the permissibility of using amulets could be compromised in order to avoid conflict and could be practiced together, considering that these hadiths met the criteria for the validity of the hadith. Thus, these traditions are maqbul hadiths with the status of valid traditions. So even though there are more hadiths that prohibit tamimah, all forms of amulets, whether from the Qur'an or not, are permissible under certain circumstances. The hadith about amulets is prohibited because some friends think that amulets are shirked because they deny belief in Allah swt. In fact, every form of the disease has a cure and the disease is cured with the permission of Allah swt.

 

Tamimah adalah tali yang dikalungkan orang arab di leher anak-anak dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat menjaga mereka dari penyakit ain atau mata. Islam datang dan melarang segala hal yang berkaitan dengan perdukunan baik berupa jimat maupun mantra dan apapun yang berkaitan dengannya adalah kemungkaran yang harus diperangi, kecuali yang berasal dari al-Qur’an atau mantra yang ma’tsur. Berdasarkan permasalahan ini, penulis ingin mengakaji bagaimana kualitas hadis-hadis  baik yang membolehkan maupun yang melarang dan bagaimana penyelesaiannya. Berdasarkan hasil penelitian penulis menemukan hadis-hadis yang tampak saling bertentangan terkait kebolehan penggunaan jimat dapat dikompromikan agar terhindar dari pertentangan dan dapat diamalkan secara bersama-sama, mengingat hadis-hadis tersebut memenuhi kreteria kesahihan hadis. Dengan demikian hadis-hadis tersebut merupakan hadis maqbul dengan berstatus hadis sahih. Jadi walaupun lebih banyak hadis yang melarang tamimah, namun segala bentuk jimat baik dari al-Qur`an ataupun bukan, itu dibolehkan dalam keadaan tententu. Dilarangnya hadis tentang jimat itu karena beberapa sahabat beranggapan bahwasanya jimat itu syirik karena menafikan kepercayaan kepada Allah swt. Padahal sesungguhnya segala bentuk penyakit ada obatnya dan penyakit tersebut sembuh dengan izin Allah swt.


Keywords


Ikhtilaf Hadis, Tamimah, Jimat

Full Text:

PDF

References


Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal asy-Syaibani al-Mawarzi. Musnad Ahmad. Beirut: Darl Kutub Al-Alamiyah, 1993.

Abdul Majid Khon. Ulumul Hadis, Cet. 4. Jakarta: Amzah, 2010.

Abdurrahman bin Hasan. Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, Cet. 1. Jakarta: Pustaka Azzam, 2002.

Agus Sholahudin dan Agus Suyadi. Ulumul Hadis, Cet. 1. Bandung: Pustaka Setia, 2009.

Al-Turmuzi. Sunan Tirmidhi, Juz 4. Beirut: Dar al-Fikr, 2002.

Jamaluddin Abu al-Hajjaj Yusuf al-Mizzy. Tahzib al-Kamal fi Asma al-Rijal, Jilid 16. Beirut: Dar al-Fikr, t.th.

Louis al-Ma’luf. al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam. Beirut: Maktabah as-Syarqiyah, 2002.

M. Hasan al-Jamal. Biografi 10 Imam Besar, Cet. 2. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005.

M. Syuhudi Ismail. Cara Praktis Mencari Hadis, Cet. 1. Jakarta: Bulan Bintang, 1991.

Mahmud Yunus. Kamus Arab Indonesia. Jakarta: Hidakarya Agung, 1986.

Muhammad Nasiruddin Al-Albani. Shahih Sunan Tirmidhi. Jakarta: Pustaka Azzam, 2006.

Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi. Shahih Muslim, Juz 11. Beirut: Dar al-Fikr, 1924.

Tuhana Taufiq Adrianto, “Ampuhnya Terapi Herbal Berantas Berbagai Penyakit Berat” dalam Jurnal Kesehatan Nomor 2, (2011), 16.

Yusuf al-Qaradhawi. Menjelajahi Alam Gaib, Ilham, Mimpi, Jimat dan Dunia Perdukunan dalam Islam, Cet. 1. Jakarta: Maktabah Wahbah, t.th.

____________. As-Sunnah Sebagai Sumber Iptek dan Peradaban. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998.




DOI: http://dx.doi.org/10.22373/tafse.v3i2.13278

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Zulihafnani, Salwati

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

INDEX BY:






Journal Secretariat
:
Al-Qur'an and Tafsir Department, 1st Floor, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh Indonesia. Jln. Syeikh Abdul Rauf, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Indonesia. Post Code: 
23111.
Email:
 tafse@ar-raniry.ac.id

TAFSE: Journal of Qur’anic Studies, e-ISSN: 2775-5339, p-ISSN: 2620-4185